Elly bungkam soal data pengunjung, apakah wisata Langkat sudah tak populer lagi?
4 April 2026 01:38
.
3 menit membaca
AXIALNEWS.id | Langkat memiliki banyak destinasi wisata unggulan yang diyakini mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan perekonomian kerakyatan, dan pendapatan asli daerah (PAD).
Peningkatan tersebut sejalan dengan poin kelima misi pemimpin daerah periode 2025 – 2030: Meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor unggulan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat Hj Nur Elly Heriani Rambe MM, Kamis (4/2/26), bungkam soal bagaimana upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke depan, termasuk data jumlah wisatawan periode libur lebaran 2026. Apalagi besarnya pendapatan PAD dari sektor pariwisata.
Baru-baru ini, Pemprov Sumut merilis jumlah wisatawan yang mencapai 360 ribu orang pada periode Idul Fitri 2026 dari luar negeri dan dalam negeri yang datang ke Sumut.
Lima daerah dilaporkan mengalami peningkatan pengunjung yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dan Langkat tidak termasuk di dalamnya.
Data Disbudparekraf Sumut menunjukkan: Sebanyak 360.000 pengunjung, jumlah tertinggi di Kabupaten Samosir mencapai 86.879 orang, akumulasi dari 17 destinasi wisata di wilayah tersebut.
Baca juga Pengguna Anggaran Pemko Binjai Diminta Batalkan Kegiatan yang Tidak Berdampak pada Pelayanan
Selain Samosir, sejumlah wilayah di pesisir timur Sumut juga mencatatkan kunjungan cukup signifikan, antara lain Kota Binjai sebanyak 58.641 orang, Kabupaten Serdangbedagai sebanyak 52.280 orang, Kabupaten Asahan sebanyak 35.193 orang, dan Kota Medan sebanyak 23.778 orang.
Data tersebut disampaikan Plt Kepala Disbudparekraf Sumut Yuda Pratiwi Setiawan saat jumpa pers yang digelar Dinas Kominfo Sumut di Aula Dekranasda Sumut, Kantor Gubernur, Jalan Diponegoro, Medan, Rabu (1/4/2026).
Syah Afandi, Bupati Langkat menyoroti arah kebijakan pembangunan daerah untuk mendorong sektor pariwisata sebagai penggerak perekonomian baru di Langkat.
Ia secara khusus meminta seluruh jajaran pemerintah daerah memaksimalkan pengembangan 30 desa wisata yang ditunjuk.
“Saya mengajak kita semua untuk fokus pada sektor yang memiliki potensi besar untuk menggerakkan perekonomian, menciptakan lapangan kerja, serta melestarikan budaya kita, yaitu sektor pariwisata, khususnya pengembangan 30 desa wisata yang telah ditetapkan”, tegas Bupati.
Menurut dia, 30 desa wisata tersebut tersebar di berbagai wilayah Langkat dengan ciri dan daya tarik yang beragam, mulai dari wisata alam, budaya, religi, kuliner, hingga sejarah. Keberagaman ini menjadi kekuatan kolektif yang harus dikelola secara terarah dan berkelanjutan.
Baca juga Januari-Juni 2023, kunjungan wisman ke Sumut mencapai 94.815 orang
“Setiap desa mempunyai sejarah dan keunikan tersendiri, ini merupakan kebaikan kita bersama yang harus dijaga dan dikembangkan bersama,” kata Bupati.
kata Bupati usai memimpin apel bersama ASN di halaman kantor Bupati Langkat, Senin (8/2/26).
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus mendorong perlindungan dan pelestarian warisan budaya di wilayah tersebut. Pada tahun 2025, ada lima objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, yaitu Candi Bahal I, II dan III, Masjid Azizi di Langkat, dan Istana Maimun di Kota Medan.
Baca juga Pelantikan 28 pejabat pemerintah Kabupaten Langkat, diminta fokus pada 5 sektor utama
Kini, pada tahun 2026, Pemprov Sumut kembali mengusulkan agar tujuh benda cagar budaya diberikan status warisan budaya nasional. Rekomendasi yang diajukan Tim Ahli Cagar Budaya Sumut (TACB) pada tahun 2025.
Ketujuh objek tersebut antara lain Candi Tandihat 1, 2 dan 3, empat sumur minyak di Langkat, makam Papan Tinggi di Barus, dan situs Hilimase (Hilima SATAno) di Nias bagian selatan.
Langkat diketahui memiliki banyak tempat wisata yang tersebar di sejumlah kecamatan antara lain Wisata Alam Bukit Lawang, Wisata Alam Tangkahan, Pemandian Lau Kulap Padang Tualang, Pamah View, Binge River Rafting, Kolam Abadi dan Palaruga Seibingai, Pemandian Air Panas Simolap, Puncak Akui/Bukit Yo’s Kampung Wisata, Sungai Landak Bahorok, Air Terjun Batuk Katak Siluman Kuala, Jodoh Semelir. Air Terjun Salapian dan lain-lain.
Editor: Ryan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
